Basmallah

Jangan lupa dalam melakukan sesuatu diawali dengan bismillah.

Tunaikan selagi mampu

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Sabtu, 30 Juli 2016

Indah dan Lelah

Sudah jauh-jauh hari pengen travelling ke suatu tempat.
Dan sehari sebelum hari H, direncakan ke Curug Cimahi. Berdasarkan sumber yang ada, itu tempat yang direkomendasi untuk dikunjungi.
Berangkat pagi jam 8.30, sampai di lokasi 9.10. Dari ataslah, perjuangan yang sesungguhnya dimulai. Kami harus menuruni tangga sekitar 500 anak tangga dengan dikelilingi hijau-hijau dan sekawanan monyet yang berkeliaran.
Dan akhirnya, sampailah. Curug Cimahi atau Curug Pelangi.
Suasana yang sejuk dan tenang.
Indah bukan?
Masya Alloh.
Gemericik air yang sungguh menenangkan, angin yang berhembus seakan-akan sampai ke pori-pori tubuh, dan aliran air yang mengalir mampu menghanyutkan perasaan yang sudah lama terpendam.
Berlama-lama di sini mampu menghilangkan kegundahan dan kepenatan yang mampu jiwa ini terperangkap.

Alloh menciptakan alam semesta ini untuk hamba-hambanya dapat mensyukuri apa yang berada di dalamnya dan mampu mengambil hikmah dari setiap perjalanan yang dilalui.
Ketika sudah dirasa cukup puas bermain main dengan air dan menikmati serta berfoto riang untuk mengabadikan momen. Itulah saatnya kembali ke kehidupan ynag penuh dengan perjuangan. 
Dengan diawali menaiki tangga yang sekitar 600 anak tangga itu. Beberapa kali berhenti untuk mengambil nafas karena terlalu lelah untuk melangkah dan ditambah pula dengan melawah gaya gravitasi.
End Curug Cimahi~

Perjalanan pulang.
Belum selesai, perjalanan hari ini.
SABUGA (Sasana Budaya Ganesha).
Ada apakah? Ya, wisuda Juli S1.
Mau apa? Ngucapin selamat atas kelulusannya, semoga berkah ilmu dan sukses kedepannya.


Ke siapa? Tadinya berniat ke elektro aja, di sana ada kakak URO khususnya dari tim Berkaki (Mas Aznan, Mas Kholis dan Mas Evan). Tapi ternyata di sana ketemu banyak wisudawan yang dikenal. Ada teh Iis dan kang Abduh dari korsa serta mbak Abida (mbak fasil asrama).
Kalo udah ketemu ngapain? Ngucapin selamat, terus foto. Haha.
Setelah itu? Keliling-keliling sampai capek.

Wkwkwk.
End.

Jumat, 29 Juli 2016

Resensi Novel O

Gaya Eka Kurniawan dalam menuliskan novel O menggunakan alur maju mundur. Hingga saya dibuat bingung membaca, apakah ini saling berkaitan. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memahami bagaimana keterkaitannya. Dengan gaya penulisan yang cenderung blak-blakan hingga saya dibuat shock ketika membaca, namun tetap ikut terjun kedalamnya.
Novel ini menceritakan bagaimana binatang dapat menjadi manusia ataupun manusia yang menjadi binatang.
O yang merupakan seekor monyet dan mempunyai kekasih bernama Entang Kosasih. Di Rawa Kalong, para tetua terlalu sering menceritakan bahwa terdapat monyet yang berubah menjadi manusia ialah Armo Gundul yang dalam ceritanya dia ikut dalam peperangan melawan monyet-monyet yang telah dipengaruhi kejahatan untuk menyerang manusia. Kisah-kisah yang telah diceritakan membuat Entang Kokasih ingin menjadi manusia.
Hingga pada suatu saat, Sobar dan Joni yang berprofesi sebagai polisi sedang ditugaskan di Rawa Kalong untuk mengamati seorang mujahidis. Hanya mengamati. Mujahidis tersebut setiap malam selalu melantunkan ayat suci al-Qur'an untuk memenuhi janji. Mujahidis tersebut dulunya seorang santri yang diminta tolong untuk mengajarkan al-Qur'an kepada seorang gadis. Gadis tersebut selalu memerhatikan suara-suara yang terdengar dan pada akhirnya sampailah kepada mujahids tersebut. Terciumlah perasaan antara mereka berdua yang diketahui oleh ayah sang gadis sehingga sang ayah marah dan memaki mujahidis dan si gadis yang pada akhirnya gadis tersebut dinikahkan dengan duda kaya raya. Si gadis sudah terlalu cinta dengan mujahidis dan tak sanggup apabila kesuciaanya direnggut oleh sang duda. Gadis melarikan diri dari rumah untuk mencari mujahidis yang telah meninggalkannya terlebih dahulu. Namun, si gadis pernah berpesan bahwa suatu saat mereka berdua pasti akan bertemu dalam kondisi bagaimanapun. Maka, bertemu lah mereka di Rawa Kalong dengan keadaan yang sudah tidak dikenali namun jiwa mereka masih terpaut sama sekali dan mereka akhirnya menikah. Selamat tinggal, Rawa Kalong.
Tugas Sobar dan Joni belumlah selesai. Mereka harus berhadapan dengan monyet-monyet Rawa Kalong.
Ada apa?
Ketika itu, ada seekor Sanca yang sedang mengincar anak kecil dan tertangkaplah anak tersebut. Dilililah dan dibanting supaya tak berdaya. Namun, monyet-monyet lebih memilih tak suka dengan Sanca walaupun monyet-monyet tak suka manusia. Mereka berteriak saling bersahutan, meminta tolong agar anak diselamatkan. Entang Kokasih mecoba untuk menyelamatkan si anak bayi agar bisa menjadi manusia. Diancamlah sanca dengan telur-telurnya akan dipecahkan. Sanca tak mau menggubris. Satu persatu, telur dipecahkan oleh Entang Kokasih. Hingga melihatlah sang polisi kejadian tersbut, dan sedikit heran dengan kejadian terset sampai tak menyangka ada seorang anak yang terlilit ditubuh sanca. Ibu sang anak menghampiri dan bertindak sebagai pahlawan untuk menyelamatkan anaknya. Si ibu melabrak Sanca, agar terlerai dengan si anak. Tersadar, kedua polis untuk turut membantu melerai. Sobar sudah siap siap mengambil revolver dan Joni memegang di bagian ujung ekor.
Ditembaki tepat dikepala sanca. And die. Selamat kepada Ibu dan Anak, walau dengan terluka.
Entang Kokasih kagum dengan cara manusia membunuh. Diambilnya revolver punya Sobar.
Sobar baru tersadar bahwa revolver sudah tidak berada ditangannya. Mencari-cari dan kembali ke hutan.
Oh, ternyata digenggaman monyet. Sial.
Berfikir, bagaimana bisa revolver berada di monyet dan bagaimana merebut kembali.
Di suruhlah Joni untuk menembak Entang Kokasih.
Namun, pada akhirnya revolver menyerang Joni dengan segala trik yang digunakan Entang Kokasih. Matilah Joni.


Kamis, 28 Juli 2016

Sahabat berbagi

Di semester kedua di asrama Salman ITB, saya bersama ketiga orang yang luar biasa yang mampu membuat diri ini menjadi nyaman untuk sekedar melepaskan penat sewaktu kuliah, tugas, atau kegiatan yang ada.
Ya, mereka adalah Hana Fauziah Puschy Dae dari Cilacap, Devi Imulia Dian Primaskun dari Baleendah, dan Azalia Shafira dari Lampung. Mereka ngampus di ITB. Hana jurusan Teknik Lingkungan 2013, Devi jurusan Matematika dan Azalia dari SBM Manajemen 2014. Walaupun sekarang kami telah berpisah dan tidak bersama, setidaknya kami masih sering menyapa, atau sekedar spam di grup (lebih sering aku sih).
Dulu, kamar kami selalu paling berisik (padahal udah ditutup di pintu). Mungkin itu sebuah ungkapan pelampiasan akan kegiatan sehari-hari, Selain itu, kamar yang sering komplit kalau sore menjelang. Selalu aja ada orang di kamar. Kuliah, langsung berbaring di kasur yang di bawah. Tak jarang, sering terjadi perebutan kasur bawah (saya salah satu yang tertindas, hahaha). 
Masih ada lagi, hobi kami makan. Berhubung, salah satu di antara kami yaitu Devi yang hobinya masak, jadilah kami terbawa untuk menjadi penggiat masak untuk mendapatkan makanan yang diinginkan. Seringkali, kami masak buat kamar. Walaupun hanya sekedar mie rebus.
Mengingat kalian, aku terkadang ingin segera berjumpa.
Selamat sukses, menemukan kehidupan yang selalu membuat hari-hari yang indah dan bermakna.
Dimanapun berada, tetaplah menjadi seseorang yang bermanfaat.
Selamat menikmati indahnya perjuangan ^_^



Selasa, 26 Juli 2016

Hanya sementara

Aku hanya pergi tuk sementara, ku tinggalkan kampung halaman tercinta.
Takkan lama.
Iya saat kembali ke Bandung, seakan sudah lama sekali kumeninggalkannya.
Udara sejuk Bandung mampu menghangatkan panasnya perjalanan  yang melelahkan