Basmallah

Jangan lupa dalam melakukan sesuatu diawali dengan bismillah.

Tunaikan selagi mampu

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Juni 2020

Mengenal Diri

Mengenal dan dikenal orang lain adalah hal yang sangat wajar sekali ketika kita menjadi makhluk yang suka sekali dengan bersosialisasi.
Ya, sejak dulu berinteraksi dengan orang yaitu dengan sewajarnya.
Sehingga segala sesuatu tidak segalanya dimasukkan ke hati dan pikiran. Yang tersisa hanya sebuah pikiran diri sendiri. Tidak tercampur aduk.
...
Tiba tiba menjadi berubah ketika sudah ada pikiran lain yang masuk. Segalanya menjadi lebih berwarna.
Yang harusnya lebih mudah, harus melewati jalan lebih panjang agar lebih berwarna. Dan itu Indah.
Yang harusnya tak perlu dipikirkan, merasa harus dipikirkan agar lebih berwarna. Dan itu Indah.
Yang harusnya tak perlu dirisaukan, menjadi perlu selalu berharap dan berdoa agar semuanya baik-baik saja karena kita sebagai manusia hanya bisa mengadu kepadaNya. Dan itu menjadi semakin Indah.
Dikala menjadi jiwa-jiwa yang sedang tersesat, merasa perlu menjadi sadar kembali dan saling mengingatkan untuk saling menjaga. Dan itu Indah.
Dikala menjadi jiwa-jiwa yang sedang menahan, menjadi perlu menambah kapasitas kesabaran agar selalu damai. Dan itu Indah.
Dikala menjadi jiwa-jiwa yang sedang ingin meluapkan segala emosi, merasa perlu diredam agar saling mengerti. Dan itu Indah.
Dikala menjadi jiwa-jiwa yang sedang membutuhkan kekuatan, yang diperlukan hanya menenangkan diri dan berserah kepadaNya.
...
Karena dengan mengenal dan dikenal orang lain, menjadi semakin mengenal diri dengan segala kesedihan dan kesenangan, kelebihan dan kekurangan, kekuatan dan kelemahan, yang terdapat pada jiwa yang selalu berharap menjadi orang yang mampu mengeluarkan cahaya minimal untuk dirinya sendiri ketika jiwanya masih dalam keadaan gelap gulita.

Sabtu, 26 November 2016

Hikmah keluar dari mager

Pagi hari, chat temen buat ngajakin ngaji Safinah. Eh, temenku belum bisa ikutan karena mau ngerjain tubes, ceunah. Oke lah. Tapi malah dia maksa buat aku ngikut kunjungan pengurus yang awalnya malas sekali.
Dia gak bisa, masih ada perempuan yang lainnya yang bisa. Hehehe.
Budaya ngaret masih mengakar sih, di poster mah jam 9.00, eh mulai malah jam 10.00. Mantap kali kan.
Jadi tadi bahas tentang tayamum dari sebab-sebab, syarat, yang membatalkan, fardhu tayamum.
Selesai ketika adzan dhuhur berkumandang.
Sekitar jam 13.00, saya bersama teman-teman yang lain menunggu di Bank Muamallat untuk ke rumahnya Pak Suwarno dan Bu Elin. Perjalanan cuku panjang dan terik matahari cukup membuat kami yang berada di dalam angkot merasa gerah dan terkantuk.
Sesampainya di sana, langsung disuguhin untuk makan siang. Wow, mantap kali. Ini lah yang ditunggu-tunggu sebagian orang. Hahaha, termasuk saya.Selesainya makan, dapat lah wejangan-wejangan lagi. Yang membuat, semangat menatap dunia kembali muncul di permukaan. Api yang disulutkan, mampu membuat jantung berdegup kencang.

Salah satunya :
-Seseorang perlu mempunyai karakter yang membuat orang lain nyaman dan diri sendiri menjalankannya tentu akan ikhlas.
*Seperti, menepati janji. Jika kita belum mampu untuk menepatinya, cukup bilang maaf dan berikan alasan mengapa begitu. Dan jangan pernah membuat janji yang membual dan yang nantinya tidak bisa untuk ditepati.
*Kalau kita memerlukan bantuan orang lain, maka ketika kita telah bertemu orang yang merupakan orang yang akan dimintain tolong berlaku lah hormat.Jangan bermain dengan gadget sendiri, sok penting ngobrol dan nge-chat tanpa memerdulikan tujuan bertemu tersebut. Sungguh tak sopan sama sekali.

-Untuk menyatukan qolbu salah satunya melakukan aktivitas bersama dan melakukan perjalanan minimal 3 hari. Dengan cara seperti itu dapat menguatkan persahabatan dan persaudaraan. Intinya harus berjalan bersama.
-Dalam salah satu pengajaran yang diajarkan oleh Pak Suwarno ke mahasiswanya adalah Kompetensi harus naik dari sebelumnya, bahasa asing, Self Confidence, networking yang jangka panjang, multi/close culture experience.

Ya begitu lah banyak hikmah hari ini. Alhamdulillah.
Pulangnya gak pake angkot, tapi bonceng sama Fathimah pake motor menyusuri hari yang semakin gelap.

Sabtu, 22 Oktober 2016

Hari Santri Nasional

22 Oktober diperingati hari santri nasional semenjak presiden Jokowi menjadi presiden. 2 tahun sudah.
Jumat pagi, Ika(adik tingkat waktu di MTs, MAN, dan pernah sekamar sewaktu di pondok) ngajak ke pondok. Sowan gitu. Capcus deh.
Dengan mengendarai motor matic punya Ika, ngeng.... ngeng...
Alhamdulillah sampai.
Dan Alhamdulillah juga di pondok udah ramai banget. Gak kayak waktu zamannya aku, masih bisa dihitung orangnya pakai jari. Sekarang juga masih bisa dihitung pakai jari, tapi gak nyukup pakai jari sendiri. Hihihi.
Seneng seneng aja di sana. Keliling keliling sorenya. Cukup ramai. Berhubung sedang menyambut Hari Santri Nasional di MHS sesak dengan orang-orang dan mobil-mobil.
Tak lupa juga, mampir ke mang Fadhol (bakso favorit). Kenyanglah sudah.
Malam harinya, ikut ngaji Nashoibul 'ibad (tapi gak ada ustadnya). Berakhirlah dengan bercerita ke sana ke mari sampai jam 12.
Paginya, aku sama Ika mau izin pulang Nyai Sunah. Tadinya sewaktu tiba di pondok, udah izin tapi gak ketemu Nyai Sunah (lagi sakit, dan mau berobat). Cepet sembuh ya mi dan diberi kesehatan.
Ketemu, Alhamdulillah diberi wejangan malah dikasih minun+sarapan.
Alhamdulillah.
"Belajar ikhlas tuh susah banget. Cerita ngalor ngidul sampai lupa. Malah sampai juga ke aku, ditanya mau nikah kapan? Haha. Mau yang bagaimana? Kalau santri mimi punya tuh. Tapi ya harus nerima. (Akunya dengerin aja). Kalau mau milih lihat 4: Agama, Ilmu, Wajah, Harta.
Yang perting agamanya. Syukur, syukur bisa semuanya. Aaamin. '"
Udah pamit, lanjut mau pulang. Sebelum pulang, kita mampir ke Masjid at-Taqwa. Di sana mejeng doang sih. Hihihi.
Malahan dapat kenalan baru. Tak lupa teman Ika, nyamperin buat ngajak kita jalan-jalan (read: keraton). Iya ke keraton kanoman (read: bayar 7k). Lanjut ke keraton kasepuhan (bayar 15k).  Gak jadi masuk. Jadi cuman mampir ke masjid kasepuhan saja.
Setelah itu, lanjut ke grage city. Mampir dulu ke Masjid hijau yang berada di samping Grage City. Lumayan panas sih soalnya atapnya pakai kaca gitu sepertinya dan di jalannya udah di aspal semua.
Udah sholat dhuhur, ke grage city cumab liat liat doang dan berakhir di kfc. Aku cuman mesen coffee float, kalo  Ika coffe float sama burger dan Agung (teman Ika) lupa akunya mesen apa. Udah kenyang saatnya berpisah dengan Agung. Terimakasih Agung atas kesempatan bertemua.
Berakhirlah dan sampai di rumah aku dan terakhir di rumah Ika sendiri.
Terimakasih.

#HariSantriNasional
#22Oktober
#PernahNyantri
#NgakuSantri
#AyoMondok

Minggu, 11 September 2016

Karangsari-Brebes-Cirebon-Bandung

Apaan itu? Trayek bus antar kota? Hahaha. Jadi itu tempat saya pernah menimba ilmu, menikmati indahnya belajar dan berjuang, menikmati akan hausnya ilmu pengetahuan.
Nah, sekarang bagaimana? Masih lapar, haus dan kering akan indahnya ilmu pengetahuan.
Iya, saya masih ingin.
Terlalu nikmat masa masa itu.

Rabu, 07 September 2016

Sikit sikit, bye bye

Owe mau dikit demi sedikit mengurangi eksistensi di dunia khayal ini. Seperti sebelumnya, hal cem gini pernah owe lakuin. Pengen pura pura gak tau, bebas, gak khawatir dan damai.
Rasanya tau kabar dari yang lain itu, campur aduk. Seneng, sedih, kadang merasa iri.

Kamis, 25 Agustus 2016

Luntang Lantung

Udah kadung pernah buat janji buat main dan Alhamdulillah masih diberi kesempatan, cabutlah aku sama Vina buat ke Tangsel (rumah Vina). Jadi kita sengaja ke sana berangkat pagi jam 5 dan sampai stasiun sekitar setengah 6. Nungguin aja. Oh iya, kereta berangkat jam 6.30 (Selasa, 23 Agustus 2016) dan diperkirakan sampai jam 9.40. Dan ternyata sampai di stasiun Gambir 9.50 atau jam 10.00, tepatnya aku lupa.
Ya berhubung stasiun gambir dekat dengan monas (monumen nasional), capcus deh ke sana. Sebelum ke sana, kita diajak cape capean. Keliling gak jelas(gak tau pintu masuk). Itu udah hampir ngelilingin monas. Hahaha. Benar-benar, hayati lelah bang. Beli tiketnya 15000 (maklum udah gak jadi mahasiswa), lumayan banget tuh harganya. Udah 2 kali lipatnya yang mahasiswa pelajar. Nah, kita udah masuknya umum. Manfaatkan tuh. Tidak cukup, berjalan jauh begitu dan harus antri cuy. Panjang beut. Antri hampir 1 jam dan sekitar jam 12 sampailah di puncak monas. Uhhhh. Lihat kota Jakarta dari atas. Ternyata eh ternyata, gedung gedung yang sering dibicarakan di TV bisa diliat bentuk jelasnya dari jauh. Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, PRAMUKA, Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, Gedung Kementerian, dan masih banyak lainnya. Terus aku sempet mikir, di mana letak Istana Negara yang sering muncul di TV apalagi pas kemarin 17 Agustus ? Sidang Jesika kasus kopi Sianida juga dimana? Kan lagi hits gitu. Hahaha.
Udah cukup puas melihat Kota Jakarta dari atas (lebih tepatnya panas sih), saatnya balik. Jadi harus naik Busway dulu nih. Jalan dulu tuh buat cari busway. Kata pak Polisi deket ban Indonesia.  Dan ketemulah dengan menempuh perjalanan yang cukup panjang. For the first time naik busway pake kartu e-money. Kartu ini bisa dipake buat naik busway, krl, makan, ataupun. Asal ada isinya aja sih.

#BelumSelesai 

Senin, 22 Agustus 2016

Hilang Sejenak

Perasaan aneh, was was, ataupun ada sesuatu yang mengganjal ingin sekali aku menghilang
Menghilang sejenak agar perasaan itu lenyap dan kembali normal
Tak ingin melihat kabar kabur dari siapapun
Ingin sendiri
Tiada seorangpun yang tahu bagaimana aku
Tutup semua
Sepi,
Tenang,
Damai,

Ingin menghilang sejenak

Kamis, 18 Agustus 2016

Hiruk pikuk bis antar kota

Perjalanan Bandung-Brebes maupun Brebes-Bandung, saya selalu menggunakan bis.
Menjadi hal yang lumrah.
Pakai kereta? Mana bisa.
Pakai travel? Bisa, tapi harganya bisa sampai 2 kali lipat bis.
Jadi, dipilihlah bis.
Bis apa yang biasa dipake? Seringnya Goodwill.
Kenapa gak yang lain? Bisa sih pake yang lain.
Bhineka, cukup nyaman. Semua bisnya  ber AC. Harga masih normal. Tapi seringnya cuma sampai cirebon aja. Jadi kalo mau sampai Brebes, bisa pake angkutan umum 2 kali, atau dilanjut pakai bis lagi. Ribet kan.
Sahabat, udah males pake bis ini. Punya pengalaman yang tidak menyenangkan.
Yang lainnya, belum pernah. Pengin pake nusantara, tapi belum pernah nemu yang pas mau ke Brebes.
Jadi dipilihlah Goodwill.
Goodwill, bis merah yang sudah melegendaris dikalangan masyarakat ekonomi menengah ke bawah.

#BelumSelesai 

Senin, 15 Agustus 2016

Penjaga Api (Pawon)

Akhir- akhir ini tiap pagi, saya bergaul dengan api. Sebenarnya hal ini sering saya lakukan.
Pernah dengar istilah pawon? Tempat pembakaran yang terbuat dari batu bata yang disusun. Untuk memperkokoh dapat juga di semen. Biasanya terdiri dari 1, 2  atau 3lubang pembakaran. Kalau yang di saya itu ada 2. Bahan bakarnya dengan kayu yang terkena api.
Kenapa?
1. Menghemat. Walaupun sekarang udah jaman pake gas yang lebih hemat daripada dulu pake minyak, akan lebih hemat lagi kalau punya alternatif lain yaitu pake kayu.
2. Bersih. Sampah selalu dihasilkan setiap hari salah satunya sampah rumah tangga. Di tempat saya tinggali saja, selalu aja sampah yang selalu dibuang di belakang(sekitaran pawon). Jadi daripada dibuang disekitaran rumah, mending dipake buat membantu sebagai penyulut kemerahan. Walaupun mencemari lingkungan, tapi gak seperah pembakaran hutan yang menimbulkan kabut asap. (Ngeles aja). 
Bakar sampah di daerah ku, masih dianggap wajar. Tetangga maupun masyarakat tidak mengkhawatirkan akan hal tersebut. (Maklum belun kota, haha). Bahkan saat musim ketiga, banyak yang memanfaatkan untuk membuat batu bata yang proses pembakarannya sampai 3hari yang menimbulkan asap yang berkepanjangan. Selain itu, di sekeliling rumah saya pun, masih pekarangan. Jarak antara rumah tetangga yang terdekat sekitar 3 meter.

So, it's ok.

Kamis, 11 Agustus 2016

Greget

Indonesia.
Yang di dalamnya terlalu banyak cerita.
Cerita suka, sedih, marah, iba, takjub dan segala bentuk emosi mampu mewakilkan penggambaran Indonesia.
Tangan ini belum mampu untuk mendobrak pintu yang sengaja selalu ditutupi.
Lidah ini belum mampu menyeruak ke permukaan hingga bibir ini hanya bisa membisu
Jadilah sunyi.
Seakan aman-aman saja negeri ini.
Cerita ini telah terjadi dari kalangan bawah sampai kalangan atas.

Rabu, 10 Agustus 2016

Tukutuk

Ceritanya tuh lagi bosen di rumah, jadi tadi pergi ke Brebes mau beli buku di Gamprit.
Buku yang jadi langganan pas jaman MTs. Ya, walaupun seringnya kalau ke sana, cuman numpang lewat atau cuman bolak balik bukunya. Buku disitu, dari dulu sampai sekarang selalu penuh dengan buku- buku. Ya namanya juga toko buku. Buku di sana, relatif lebih murah, bukan baru, tapi tetep masih oke loh.
Akhirnya, keluar toko bawa sesuatu yang dibeli deh.
Lanjut ke masjid agung Brebes. Berhubung sudah mendekati waktu ashar dan sudah lama tidak berkunjung ke sana. Ngadem lah. Lumayan. Eh, pas mau pulang ketemu di pelataran masjid sama Nurul, adik kelas jaman MTs dan di MAN yang sekarang lagi ambil psikologi di UNPAD.
Pulang pakai elep (angkutan umum seperempatnya bis yang besar). Elep ini, angkutan hits di Brebes. Cuman ada jurusan Losari-Tegal sama Ketanggungan-Tegal. Jangan terkecoh kalau mau naik elep. Dari dulu sampai sekarang, seringnya naik Ketanggungan-Tegal. Soalnya kalau yang satunya sering ngetem(berhenti) dan trayeknya memang lebih jauh. Walaupun tak semua begitu. Hanya tertentu.
Sensasi naik elep kali ini berbeda. Seperti baru pertama kali naik kembali semenjak 6 tahin silam. Aku berdiri berdesakan dengan penumpang lain bersamaan dengan para siswa yang baru pulang sekolah. Sungguh pengalaman itu mengingatkan kembali sewaktu MTs dulu. Terlalu sering berdiri, baik pergi maupun pulang sekolah. Tapi tak ada mengeluh sedikitpun.
Uncchhh, jadi kangen.
Tadi sempet lama sih, nunggu elepnya gegara lagi pemberangkatan haji.
Waktu, benar-benar cepat berlalu.

Rabu, 03 Agustus 2016

Sepertinya Wisuda

Bangun pagi. Sudah wangi. Sudah rapi.
Masih menginap dikosan Inka dan mbak Ruli.
Gak pake make up artis, tapi make up friend (mbak Eva). Good job mbak, makasih udah mau bantuin saya.
Gimana jadinya kalau saya make up sendiri? Huwwaahh, gak tau bakal jadi apa.
Intinya udah beres aja lah. Nah, saatnya pergi ke Salman buat nemuin ortu.
Tahu kah Anda? Owee, malu disepanjang jalan kenangan, aku sendiriaaannn. Hahaha.
Udah aja lah, sampai di Salman terus langsung ke Aula Barat (Albar). Eh, di sana udah ada mbak Ruli sama Inka.
Terus ngapain? Saya dikasih sesuatu ama mereka. Apa itu? Sesuatu. Makasih. Foto deh.
Masuk ke dalam Albar.
Jam setengah 9, prosesi berlangsung. Jam 10 kayaknya udah selesai dah.
Euforia pun berlangsung. Dari menyapa antar keluarga, foto bareng, dan makan makan.

Terimakasih untuk keluarga yang sudah hadir. Pengorbanmu tiada bandingnya. Ayah, Ibu, Kakak dan Adik.
Terimakasih buat teman-teman metrologi yang hampir 3 tahun ini sudah mau menjadi keluarga dalam menerima saya yang suka moody, sering gak jelas, aneh gini. Maafkan atas jiwa dan raga.
Semoga dilancarkan dalam setiap langkah baik yang lanjutin S1, kerja, maupun yang mau nikah. Aamiin.
Terimakasih yang sudah menyempatkan hadir.
Asrama Salman ITB periode 2015/2016, PSTK ITB, kronco-kronco MAN yang datang dari jauh (Sadur, Ujo, Irfan ndut, Laely), Khansa, dan yang lainnya. Terimakasih.

Selamat menikmati indahnya perjuangan ^_^


Selasa, 02 Agustus 2016

Gladi

Hari ini adalah gladi untuk persiapan wisuda besok.
Perasaan yang dirasakan itu, sebenarnya campur aduk. Senang, sedih, terharu, bahkan sempat air mata ini keluar walau hanya setetes.
Perasaan enggan untuk berpisah.
Perasaan ingin tetap berada di Bandung.
Meluap begitu saja.

Sabtu, 30 Juli 2016

Indah dan Lelah

Sudah jauh-jauh hari pengen travelling ke suatu tempat.
Dan sehari sebelum hari H, direncakan ke Curug Cimahi. Berdasarkan sumber yang ada, itu tempat yang direkomendasi untuk dikunjungi.
Berangkat pagi jam 8.30, sampai di lokasi 9.10. Dari ataslah, perjuangan yang sesungguhnya dimulai. Kami harus menuruni tangga sekitar 500 anak tangga dengan dikelilingi hijau-hijau dan sekawanan monyet yang berkeliaran.
Dan akhirnya, sampailah. Curug Cimahi atau Curug Pelangi.
Suasana yang sejuk dan tenang.
Indah bukan?
Masya Alloh.
Gemericik air yang sungguh menenangkan, angin yang berhembus seakan-akan sampai ke pori-pori tubuh, dan aliran air yang mengalir mampu menghanyutkan perasaan yang sudah lama terpendam.
Berlama-lama di sini mampu menghilangkan kegundahan dan kepenatan yang mampu jiwa ini terperangkap.

Alloh menciptakan alam semesta ini untuk hamba-hambanya dapat mensyukuri apa yang berada di dalamnya dan mampu mengambil hikmah dari setiap perjalanan yang dilalui.
Ketika sudah dirasa cukup puas bermain main dengan air dan menikmati serta berfoto riang untuk mengabadikan momen. Itulah saatnya kembali ke kehidupan ynag penuh dengan perjuangan. 
Dengan diawali menaiki tangga yang sekitar 600 anak tangga itu. Beberapa kali berhenti untuk mengambil nafas karena terlalu lelah untuk melangkah dan ditambah pula dengan melawah gaya gravitasi.
End Curug Cimahi~

Perjalanan pulang.
Belum selesai, perjalanan hari ini.
SABUGA (Sasana Budaya Ganesha).
Ada apakah? Ya, wisuda Juli S1.
Mau apa? Ngucapin selamat atas kelulusannya, semoga berkah ilmu dan sukses kedepannya.


Ke siapa? Tadinya berniat ke elektro aja, di sana ada kakak URO khususnya dari tim Berkaki (Mas Aznan, Mas Kholis dan Mas Evan). Tapi ternyata di sana ketemu banyak wisudawan yang dikenal. Ada teh Iis dan kang Abduh dari korsa serta mbak Abida (mbak fasil asrama).
Kalo udah ketemu ngapain? Ngucapin selamat, terus foto. Haha.
Setelah itu? Keliling-keliling sampai capek.

Wkwkwk.
End.

Kamis, 28 Juli 2016

Sahabat berbagi

Di semester kedua di asrama Salman ITB, saya bersama ketiga orang yang luar biasa yang mampu membuat diri ini menjadi nyaman untuk sekedar melepaskan penat sewaktu kuliah, tugas, atau kegiatan yang ada.
Ya, mereka adalah Hana Fauziah Puschy Dae dari Cilacap, Devi Imulia Dian Primaskun dari Baleendah, dan Azalia Shafira dari Lampung. Mereka ngampus di ITB. Hana jurusan Teknik Lingkungan 2013, Devi jurusan Matematika dan Azalia dari SBM Manajemen 2014. Walaupun sekarang kami telah berpisah dan tidak bersama, setidaknya kami masih sering menyapa, atau sekedar spam di grup (lebih sering aku sih).
Dulu, kamar kami selalu paling berisik (padahal udah ditutup di pintu). Mungkin itu sebuah ungkapan pelampiasan akan kegiatan sehari-hari, Selain itu, kamar yang sering komplit kalau sore menjelang. Selalu aja ada orang di kamar. Kuliah, langsung berbaring di kasur yang di bawah. Tak jarang, sering terjadi perebutan kasur bawah (saya salah satu yang tertindas, hahaha). 
Masih ada lagi, hobi kami makan. Berhubung, salah satu di antara kami yaitu Devi yang hobinya masak, jadilah kami terbawa untuk menjadi penggiat masak untuk mendapatkan makanan yang diinginkan. Seringkali, kami masak buat kamar. Walaupun hanya sekedar mie rebus.
Mengingat kalian, aku terkadang ingin segera berjumpa.
Selamat sukses, menemukan kehidupan yang selalu membuat hari-hari yang indah dan bermakna.
Dimanapun berada, tetaplah menjadi seseorang yang bermanfaat.
Selamat menikmati indahnya perjuangan ^_^



Sabtu, 23 Juli 2016

Tempat Berteduh di perantauan, Cirebon

Awal berada di perantauan di Cirebon, saya berhasil menetap di Pondok Pesantren Hidayatul Ilmi (HI) yang dipimpin oleh Kyai Marzuki Jamzuri. Kyai Marzuki dulunya temennya bapak pas jaman dulu pernah ngaji bareng. Nah, makanya aku bisa di sana. Di pondok HI hampir selama 10 bulan. Berada di sana, banyak sesuatu yang dapat di belajari, bertemu dengan orang-orang yang hebat, dan bersahabat.
Jangan salah di sana saya punya geng namanya kismun (Kiki, Aisyah, Mumun). Hahaha. 
Bagaimana asalnya kami bisa bersahabat, mungkin berdasarkan persamaan nasib kali ya.
Dari mba Kiki, saya dapat belajar arti keikhlasan dan kedewasaan. Dari mba Aisyah, saya belajar arti dalam menghadapi masyarakat dan berorganisasi. Mereka berdua selalu mengajarkan dan meluruskan ketika saya berbuat kesalahan. Aku sudah pernah berkunjung ke rumah mereka. Tapi sekarang aku udah lupa rumahnya mba Aisyah.
Dan di sana pula, saya mengenal ustadz sholeh, ustadz Zaki, dan ustadz lainnya (ada ustadz dari pondok Jambu), serta mr. Faiz yang mengajarkan b. Inggris. Terimakasih.
Kenapa bisa pindah?
Karena ada suatu hal yang tidak bisa diceritakan. Ini adalah kesalahan saya. Tapi tidak sepenuhnya salah. Hehehe. (Bisa dibilang dulu sedikit nakal, tapi masih nakal yang bisa dimaklumi). Nakalnya gak aneh-aneh kok. 
Setelah itu, boyonglah ke Pondok Pesantren Asrarur Rafi'ah sampai lulus dari MAN Babakan Ciwaringin.
Pondok yang satu ini, banyak yang gak tau letaknya. Padahal salah satu pondokan tertua. Emang sih agak nyempil. Pondok ini selalu dilewatin kalau Jum'atan. Posisi pondok ini dikelilingi pondokan laki-laki. Dekat dengan Pondok Pesantren Roudhlotul Tholibin yang merupakan pondokan pertama di Desa Babakan.
Pesantren Asrarur Rafi'ah dipimpin oleh Kang Syarif dan Ibunya Kang Syarif Nyai Mahsunah (udah sepuh, tapi masih sehat, Alhamdulillah). Nyai Mahsunah sungguh paling tegas saat santrinya baca Al-Qur'an dan suaranya masih sangat lantang.
Saat itu, aku pernah sekamar dengan Vivi (SMP kelas 3) dan Melani (SMP kelas 1). Tahun berikutnya, sekamar dengan Ika (MAN kelas 1) dan Azmi (MTs Kelas 2). Di pondok ini juga, saya bersama Jeanne Isbeanny Laraswari Fatmawati Hermawan yang dulu MTs juga bareng. Selain itu, di pondok ini di dominasi oleh warga Brebes loh. Brebes paling hits lah.
Kebanyakan juga pengajar yang mengajari kita dari pondok Jambu atau PPMM atau dari anaknya Nyai Sunah sendiri. Keren dan kece lah.
Untuk kegiatannya, tidak jauh beda dari pondokan Hidayatul Ilmi maupun Asrarur Rafi'ah. Seperti ngaji al-Qur'an, ngaji kitab, ngaji pasaran, makbaroh, hadiyu'an, marhabanan,ro'an, tajiran dan lainnya. Banyak istilah juga yang mungkin ditemui waktu modok saja kayak banjakan (tumpengan), bestelan, lupa lagi.
Biasanya juga ada bola api, atraksi petasan, khataman, dll.
Terlalu banyak hal yang terlewatkan namun masih tetap terkenang.
Terimakasih, pondok tercinta
Terimakasih, penghuni pondok
Terimakasih, atas ilmu dan pengajaran
^_^_^_^_^_^

Pondok Pesantren Hidayatul Ilmi


Pondok Pesantren Asrarur Rafi'ah


Izinkan aku mengenang kembali, Combolay

Combolay merupakan julukan buat angkatan fullday ke-6 MAN Babakan Ciwaringin (sekarang namanya MAN 2 Kab. Cirebon). Sebelumnya sudah pernah cerita tentang Combolay. Tak mengapa diceritakan kembali. Combolay dicetuskan pada 22 Juni 2011 bertepatan dengan ulang tahun dari salah seorang sahabat saya Aditia Putra Pratama Juniar. Saat itu, ulang tahun Adit dirayakan dengan syukuran nasi kuning bungkus yang dibagikan ke teman sekelas. Dan siapa yang memulai, nama Combolay lahir. Community Bocah Alay.
Bersama Combolay, dapat dikatakan saya telah melalang buana. Dari sikap yang nekat, berani, tolong menolong dan sebagainya. Begitu erat persahabatan dan persaudaraan antara Combolay. Sampai sekarang masih tetap begitu. 
Awal 32 orang dan lulus 32 orang. Kami dari kelas 10 sampai 12 selalu bersama satu kelas. 3 tahun bersama. Sebenarnya sejak berada di MTsN Brebes juga begitu 3 tahun bersama dengan 2 kelas yang berbeda, hanya dipindah pindah orang-orangnya saja. Salah satu teman MTsN dan menjadi teman di MAN adalah Jeanne Isbeanny Laraswari Fatmawati Hermawan. Jadilah 6 tahun bersama dia. 
Tidak menyangka.
Banyak hal yang telah kami lewati bersama. Mulai dari memenangkan perlombaan antar kelas, jalan-jalan ke pantai, nonton bareng, makan bareng, belajar, nginep bareng, nekat ke Guci Tegal, sampai selalu ada drama pindahan di akhir semester. Semuanya dilakukan bersama.
Selamat buat Novi yang sudah mempunyai baby, jadi Combolay udah punya keponakan ya. Udah jadi Om dan tante. 
Selamat juga buat Aro yang udah lamaran dan akan segera menikah. Semoga dilancarkan.
Selamat bagi yang udah lulus(aku dong, haha), yang sudah sidang (Eka), dan yang mau sidang (Sadur). Semoga dilancarkan ke depannya oleh Alloh.
Semoga dilancarkan juga buat Egi biar ikutan nyusul juga.
Selamat juga yang udah dapet rezeki lebih, sering-sering aja nraktir kita-kita.
Selamat buat Combolay yang lainnya, yang sedang di sana, disitu, di mana-mana dari sabang sampai merauke, semoga kalian baik-baik saja dan segala urusan di mudahkan.

Salam sukses untuk kita semua.
Selamat menikmati indahnya perjuangan ^_^

Akhir kata, dari jiwa dan raga ini yang sedang dilanda kerinduan mengucapkan terimakasih.
(Maaf, bila ada yang tidak berkenan karena ada yang tidak seharusnya terekspos. Mohon segera beritahu saya)

Kelas X

KELAS XI


KELAS XII






Minggu, 10 Juli 2016

Karena kita keluarga (Bandung)

Terimakasih atas kesediaan teman-teman, sahabat dan keluarga menerima saya yang seperti ini untuk dijadikan teman.
Terimakasih telah bersedia menemani hari-hari ini dengan penuh keriangan, kasih sayang, nasihat, pengajaran, hikmah dan warna-warna dalam hari-hari sehingga segala kebosanan bisa hilang.
Masih banyak diri ini yang banyak kelupaan, keteledoran, kemunafikan, kesengajaan, dan kesalahan-kesalahan yang tidak bisa terhitung.
Maafkan atas sikap acuh, egois, tak ramah atau yang lainnya yang pernah saya berikan sehingga teman merasakan kesakitan namun tidak berani untuk berucap. Ucapkan lah saja saat ini bisa langsung atau PM saja.
Hanya maaf, tolong, terimakasih yang bisa saya katakan.
Terimakasih Saudara-saudaraku baik di Metrologi Instrumentasi yang telah menemani selama di 3 tahun ini, my partner TA Putu Ayustin Suriasni yang sekaligus teman pertama di Bandung, Vina dan Ruri juga, GAMA-TB (Keluarga Mahasiswa Tegal Brebes) yang telah bersedia menjadi keluarga pertama asal daerah dan bantuan-bantuan, Viva La Ganesha KRPAI Berkaki ITB yang sayanya hanya sekedar lewat dan berceloteh , Unit Robotika ITB (URO ITB), Salman Health Center Korps Relawan Salman ITB (Korsa ITB), Indahnya Berbagi P3R 1435H, Pustena (Pusat Teknologi Tepat Guna Salman ITB), Asrama Salman ITB, teman sekamar di semester genap (Hana, Devi dan Azalia) yang berisik, aneh, gokil dan selalu bikin kenyang , temen sejak di MAN Babakan Ciwaringin Cirebon (Sadur dan Irfan) yang selalu diminta bantuan apapun,  Unit Pengembangan Tilawatil Qur'an (UPTQ) Salman ITB yang mengajarkan agar belajar selalu dekat dengan al-Quran, KMNU ITB, teman-teman di Pelopor Perintis Salman ITB, para guru, pengajar dan ustadz yang telah memberikan ilmu dan pengajaran, Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah Brebes (KPMDB) Bandung, Keluarga Ganesha Mahasiswa Cirebon (KGMC) ITB yang sayanya kalau di grup silent reader saja dan gak pernah ikut kumpul (maafkan) dan segenap teman, sahabat dan keluarga yang pernah bertemu dan mengenal dengan saya dan sebaliknya saya bertemu dan mengenal Anda sekalian.
Maaf, sungguh saya tak bisa menyebut kalian semua karena kalian memang telah menjadi keluarga selama di Bandung.
Terimakasih atas segalanya.
(EdisiSedikitAlay)

Sabtu, 25 Juni 2016

Bapper

BAPPER (Bukber Akbar Pelopor & Perintis)

Awalnya udah siap-siap berangkat, tapi agak mager. Ya sudah bersantai santai saja dalam kosan. Lagian acaranya jam 13.30, terlalu siang. Wkwkwk.
Dan akhirnya, berangkatlah aku jam 15.00, Alhamdulillah, akhirnya jalan juga.
Sampe Salman, gak langsung nimbrung ke GSG, tapi malah mojok di kortim dulu. Nungguin ti ipung dulu (bisa dilihat yang pakai kerudung biru). Dia temen sekamar semester genap di asrama Salman.
Dan akhirnya, sampai lah ia juga.
Bergegas menuju ke GSG, bergabung dengan yang lain.

Hikmah :
- Bertemu dengan teman teman perintis, bersilaturrahim.
- Walaupun agak krik krik, karena banyak yang gak kenal. Setidaknya ternyata aku sedikit menyadari sudah muda di Beasiswa Perintis. Aku perintis 3 dan telah ada perintis 6. Wkwkwk.
- Dapat makan gratis, ini nih yang ditunggu. Wkwkwk.
- Dapat jam dari tukeran kado.

Terimakasih untuk hari ini.







Rabu, 22 Juni 2016

Q-Fest

Qur'an Festival

Bertemu orang-orang yang menginspirasi
Merasa ada yang selalu menasehati diri ini agar selalu ingat Alloh.
Pertama kalinya ikut nimbrung acara yang seperti ini, banyak sekali orang-orang yang berusaha cinta al-Qur'an dari semenjak kecil. Itu menyadarkan.Begitu menyejukan berada di sekeliling kalian.
Banyak hal.
Terimakasih atas kebolehan untuk sekedar nimbrung :)




Terimakasih smenerima saya menjadi bagian dari UPTQ, padahal belum begitu andil dalam kegiatannya.
Walaupun begitu, setidaknya saya telah dikenalkan bagaimana belajar untuk lebih dekat dengan al-Qur'an dan bersama orang-orang yang mencintai Qur'an.
Jadikan membaca al-Qur'an sebagai hobi, minimalnya membacanya satu ayat atau mendengarkan lantunannya.