Basmallah

Jangan lupa dalam melakukan sesuatu diawali dengan bismillah.

Tunaikan selagi mampu

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Selasa, 12 Juli 2016

Perintah "Wajib"

Tiba-tiba ada seorang teman yang nge-Line nanya sesuatu.
Aku bingung juga bagaimana menjawabnya karena aku masih fakir dan miskin ilmu.

Pertanyaan :
"Perintah Alloh yang berada di al qur'an itu dihukumi wajib semua kah?
Jika iya, apakah terdapat perbedaan antara perintah yg memang ada kata 'diwajibkan atas kamu' sama perintah lainnya yg tidak ada kata itu, tapi hukumnya tetap wajib? Misalnya, perintah menutup aurat kan wajib, tapi ga ada kata diwajibkan atas kamu. Bagaimana kah?

Karena aku yang masih begini.
Dimulai lah aku menanyakan masalah ini ke seseorang yang mempunyai kedudukan ilmu lebih tinggi yaitu ustadz Yani dan ustadz Syadid (teman di MAN dulu yang sekarang udah jadi sesepuh kayaknya di pondok).

Berdasarkan jawaban beliau-beliau yang luar biasa, aku rangkum.
"Tidak semua di dalam al-Qur'an itu wajib, ada berbagai macam kategori ayat kayak ayat-ayat qot'iyat (mutlaq), ayat-ayat yang mutasyabihat (perlu penta'wilan/penafsira. Salah satu penta'wilan adalah hadits.
Untuk penetapan hukum-hukum ada yang namanya ushul fiqih. Ilmu ini pas zaman Rosululloh belum ditetapkan sebagai cabang ilmu tapi dalam prakteknya sudah berlaku. Jadi kalau mau tahu suatu hukum harus mempelajari ushul fiqih.
Salah satu kaidah ushul fiqh : "segala bentuk perintah pada dasarnya adalah menyeru kepada wajib kecuali ada dalil pembantahnya".
Jadi kalau menutup aurat itu wajib karena perintah yang tidak ada pembantahnya.

Kalimat perintah dalam al-Qur'an banyak pengambilan hukumnya, asal kalimat perintah menunjukan kewajiban. Namun, dapat menunjukan sunah, mubah yang disebabkan dalam ayat tersebut ada qorinah/indikator yang mengarah pada kesunahan ataupun kemubahan.
Qorinah dapat dilihat dari ayat itu sendiri, asbabun nuzul, atauu lainnya.
Itulah sebabnya hukum setiap imam mujtahid ada perbedaan karena dalam menafsirkannya berbeda pula.
Contoh ada satu kata larangan namun imam yang satu mengharamkan yang satu memakruhkan karena imam imam tersebut mempunyai dalil sendiri."

Catatan : maafkan, apabila terdapat cacat dalam penyampaian karena aku yang masih fakir ilmu.

Minggu, 10 Juli 2016

Karena kita keluarga (Bandung)

Terimakasih atas kesediaan teman-teman, sahabat dan keluarga menerima saya yang seperti ini untuk dijadikan teman.
Terimakasih telah bersedia menemani hari-hari ini dengan penuh keriangan, kasih sayang, nasihat, pengajaran, hikmah dan warna-warna dalam hari-hari sehingga segala kebosanan bisa hilang.
Masih banyak diri ini yang banyak kelupaan, keteledoran, kemunafikan, kesengajaan, dan kesalahan-kesalahan yang tidak bisa terhitung.
Maafkan atas sikap acuh, egois, tak ramah atau yang lainnya yang pernah saya berikan sehingga teman merasakan kesakitan namun tidak berani untuk berucap. Ucapkan lah saja saat ini bisa langsung atau PM saja.
Hanya maaf, tolong, terimakasih yang bisa saya katakan.
Terimakasih Saudara-saudaraku baik di Metrologi Instrumentasi yang telah menemani selama di 3 tahun ini, my partner TA Putu Ayustin Suriasni yang sekaligus teman pertama di Bandung, Vina dan Ruri juga, GAMA-TB (Keluarga Mahasiswa Tegal Brebes) yang telah bersedia menjadi keluarga pertama asal daerah dan bantuan-bantuan, Viva La Ganesha KRPAI Berkaki ITB yang sayanya hanya sekedar lewat dan berceloteh , Unit Robotika ITB (URO ITB), Salman Health Center Korps Relawan Salman ITB (Korsa ITB), Indahnya Berbagi P3R 1435H, Pustena (Pusat Teknologi Tepat Guna Salman ITB), Asrama Salman ITB, teman sekamar di semester genap (Hana, Devi dan Azalia) yang berisik, aneh, gokil dan selalu bikin kenyang , temen sejak di MAN Babakan Ciwaringin Cirebon (Sadur dan Irfan) yang selalu diminta bantuan apapun,  Unit Pengembangan Tilawatil Qur'an (UPTQ) Salman ITB yang mengajarkan agar belajar selalu dekat dengan al-Quran, KMNU ITB, teman-teman di Pelopor Perintis Salman ITB, para guru, pengajar dan ustadz yang telah memberikan ilmu dan pengajaran, Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah Brebes (KPMDB) Bandung, Keluarga Ganesha Mahasiswa Cirebon (KGMC) ITB yang sayanya kalau di grup silent reader saja dan gak pernah ikut kumpul (maafkan) dan segenap teman, sahabat dan keluarga yang pernah bertemu dan mengenal dengan saya dan sebaliknya saya bertemu dan mengenal Anda sekalian.
Maaf, sungguh saya tak bisa menyebut kalian semua karena kalian memang telah menjadi keluarga selama di Bandung.
Terimakasih atas segalanya.
(EdisiSedikitAlay)

Selasa, 05 Juli 2016

Kacau balau Brebes

Setelah  diresmikan jalan tol yang berada di Brebes yang pintu keluar tepatnya di desa Limbangan telah mengacaukan segalanya. Menurutku, peresmiannya terlalu mendadak yang hanya mengejar kebutuhan arus mudik maupun arus balik.
Sudah 3 hari sholat tarawih di mushola yang dekat rumah saja, tidak pernah fokus. Merasa terganggu dengan adanya lalu lalang para pemudik yang menggunakan motor maupun mobil yang bunyinya terkadang memekakan telinga. Aku tahu mereka mencari jalur alternatif tapi yo mbok yo tetep sopan di jalan kampung begitu dengan alon-alon asal kelakon. Loh iki malah banter lan kenceng.
Ini juga, saat mau pulang dari acara bukber MTs, jalannya harus ke samping.
Cari jalur alternatif. Sama saja hasilnya.
Balik lagi. Ditempuh dengan waktu yang lama.
Parah pisan, jalan yang harusnya ke arah barat telah diambil alih buat ke timur.
Jadilah 4 jalur ke arah timur. Tapi tidak ada tanda-tanda terurai kemacetan sedikitpun.
Turun lah hujan, ikut menyejukkan.
Fenomena harga bensin yang tidak karuan mahalnya. 20-50 ribu rupiah. Terlalu sekali. Apakah ini momen memanfaatkan atau bisa melihat betapa hausnya daerah Brebes?
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya ya walaupun macet paling hanya di beberapa titik tertentu seperti pasar Bulakamba yang tidak menimbulkan kemacematan yang sangat lama dan panjang.
Tradisi mudik tahun ini, sungguh melelahkan.

Sabtu, 02 Juli 2016

Beberes

[Beberes]
Eh, ketemu lagi dengan kutub.
Kembali.
Ternyata banyak makna yang terlewatkan, loncat ke sana ke mari.
Mungkin pada saat itu terkantuk bahkan tertidur pulas, atau karena cepat sekali bak kereta api.
Bahkan ketika dibaca lagi "Aduh ini dibaca apa lagi", padahal itu goresan tinta sendiri.
Banyak pula lembaran yang masih belum tersentuh oleh tinta.
Tak itu saja, terdapat pula yang tidak tersentuh sedikit pun, hanya sekedar memiliki.
Oh, bahkan aku punya tiga jenis yang sama. Kemanakah saat itu, mungkin terlalu malas untuk mencarinya di antara tumpukan yang lain.
Dibaca sekilas, ah iya benar juga.
Tidak cukup dibaca sekali, butuh berkali-kali agar bisa memahami.
Mungkin akan ada sesuatu yang terlewatkan tanpa disadari.
Ilmu.