Basmallah

Jangan lupa dalam melakukan sesuatu diawali dengan bismillah.

Tunaikan selagi mampu

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Tampilkan postingan dengan label Coretanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coretanku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 November 2016

Cirebon dengan Segala Kemewahannya

Hidup di kota Cirebon merupakan hal yang tak pernah aku duga dalam hidupku. Kejadiannya ketika kuharus melanjutkan Sekolah Menengah Atas. Awalnya aku hanya iseng-iseng daftar ke MAN Ciwaringin, karena keisenganku ternyata aku diterima dengan beasiswa. Sehingga aku tak kuasa untuk menolak kesempatan yang berharga ini.
Sudah 2 tahun aku hidup di Cirebon, ya beginilah kehidupan merantau di kota orang. Banyak tantangan yang harus kuhadapi tapi tak sedikit pula kesenangan yang aku dapati. Apalagi di Cirebon, aku hidup di lingkungan pesantren yang mengharuskanku harus belajar mandiri, mengatur semua kegiatan agar bisa terlaksana semua, dan yang terpenting harus bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, mengenal dan memahami karakter setiap orang karena di sini tidak hanya ada orang Cirebon saja, tapi ada juga dari Brebes contohnya aku sendiri, Majalengka, Indramayu, Bogor, Tegal, Jakarta, Karawang, dari luar pulau Jawa pun juga banyak seperti Riau, Lampung, NTT, Pontianak bahkan Papua.
Semuanya bisa dikatakan hampir kumpul di desa pesantren Babakan.
Hidup dan belajar di kota orang lain merupakan hal yang dapat menambah wawasan kita, karena ada syair (alala) mengatakan bahwa orang yang keluar dari desa (di mana ia tinggal) maka dia akan mendapatkan lima hal yaitu hilang kesulitannya, rezekinya bertambah, mendapatkan ilmu yang banyak, bisa memperbaiki tata krama, dan mendapatkan teman yang mulia. Syair ini membuatku semangat kembali ketika dalam keadaan terpuruk atau keinginan untuk kembali ke rumah. Walaupun aku di sini sekolah sambil pondok pesantren, tapi tak jarang di hari libur izin pergi untuk refreshing seperti ke Makam Gunung Jati, Indocement, gua Sunyaragi, Pasar Plered, dan yang paling sering ke Grage Mall karena tempat ini paling lengkap apalagi buku-bukunya. Walaupun di Cirebon banyak Mall, Grage merupakan Mall yang paling dipercaya masyarakat. Animo masyarakat terhadap Grage sangatlah tinggi, contohnya saya aja, kalau beli buku atau sekedar ingin tahu buku terbaru pasti ke Grage Mall.
Cirebon masih memiliki banyak hal yang menarik seperti keraton  Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan dan Keraton Keprabon yang sampai saat ini masih dijaga dengan baik; Taman Air Sunyaragi dan Taman Ade Irma Suryani; batik dengan motif Mega Mendung yang sudah diakui oleh UNESCO; dari makanan seperti Sega Jamblang, Sega lengko, Empal gentong, Docang, Tahu gejrot, Kerupuk Melarat, Mendoan, Sate beber, Mi koclok, Empal asem dan Kerupuk Udang; pasar Tegalgubug yang terkenal dengan sandangnya, pasar Plered yang terkenal dengan pangannya dan terkenal dengan kota Mallnya karena memang banyak Mall di sini seperti Grage Mall, Ramayana, CSB dan PGC yang terletak di pusat kota.
Pendidikan di Cirebon termasuk sangat diperhatikan. Terbukti dari beasiswa yang diberikan oleh Dinas Pendidikan kota Cirebon. Banyak siswa-siswi yang datang dari luar Cirebon untuk menimba ilmu di sini. Ini merupakan nilai plus bagi kota Cirebon. Ditambah lagi, sekarang kota Cirebon sedang mengajukan diri menjadi sebuah Provinsi yang akan berpisah dengan provinsi Jawa Barat. Ini akan menambah Cirebon sebagai kota yang mewah dan bermartabat.

By : Durotul Muntafiah (Jaman SMA)
#TulisanLama
#Event

Jumat, 04 November 2016

Tersadar

Semakin banyak kritik dan saran terhadap diri ini membuat ku kembali tersadar akan masih kurangnya diri ini
Sering ku bolak balik lagi, ku baca lagi apa yang pernah mereka pikirkan tentang diri ini
Membuatku kembali untuk berdiri seakan terdapat energi yang mampu menggerakan sebuah sistem
Membuatku kembali mengulurkan senyuman bahagia akan hal hal bodoh yang pernah dilakukan
Membuatku merasa ingin menjatuhkan air mata akan bodoh dan khilaf yang pernah dilakukan
Walaupun tak sedikit, setelah melihatnya aku tiada tahu harus berjalan ke mana
Namun, hidup harus tetap berjalan.
Semakin hari, semakin banyak yang harus dilewati
Entah bagaimana, aku harus mengisinya di dalam hidup.
Berharap ada di setiap celah dapat kusisipkan benih-benih yang mampu tumbuh dengan baik.
Dua nikmat yang kebanyakan manusia lalai untuk memanfaatkannya dengan sebaik mungkin adalah KESEHATAN dan WAKTU LUANG. (HR. Bukhori)

Jumat, 10 Juni 2016

Tangga

Tangga yang kulalui begitu panjang.
Hari hari dilalui dengan tangga.
Satu per satu ku lalui, hingga sampai lah ke tujuan
Sama halnya dengan hidup ini, penuh dengan tantangan yang begitu berat dan jalan yang panjang.
Dan harus diselesaikan dengan cara  yang tepat dan benar.

Senin, 14 Maret 2016

Akar-akar

Akhir - akhir ini hujan sering kali turun,
Pagi, malam bahkan siang hari pun tak kenal waktu..
Bersyukur atas nikmatMu yang turun ini, memang harus.
Namun aku takut akan tumbuhnya padang rumput yang hijau akan menutupi hamparan tanah yang sudah terlalu lama mengering
Aku belum siap menghadapi itu semua.
Akar-akar rumput sudah mulai mengakar menyebar
Ingin ku cabut akar-akar tersebut sampai ke bagian yang terdalam
Aku tak sanggup menahannya
Sesungguhnya aku ingin melihat hamparan itu
Perasaan takut lebih besar untuk menantikan hasilnya
Apakah akan menimbulkan ke madhorot atau menuai kebahagiaan
Ya Alloh bantu lah aku untuk mengelolanya atau membumihanguskan akar akar tersebut

Sabtu, 12 Maret 2016

Bersabarlah

Dalam setiap perjalananmu, pastilah kau akan menemukan sesuatu yang membuat dirimu ingin mencapai itu.
Tak terkecuali, akupun ingin menuju saat itu juga.
Sekarang, aku belum mampu.
Suatu saat nanti, pasti aku akan merasakannya.
Alloh sudahlah memberikan setiap hamba-Nya rezeki, jodoh dan mati yang tidak mungkin salah menempatkannya.
Tinggal bagaimana seseorang berusaha untuk menemukan dan mencapainya.
Jangan tergoda dalam kenikmatan dunia yang sesaat ini, tidak ada yang lebih nikmat selain kenikmatan ridho Alloh.
Berusahalah mencapai keridhoan-Nya dalam setiap urusan. Alloh pasti selalu bersama orang-orang yang berusaha dekat dengan-Nya dan pasti mendengarkan rintihan dan permohon hamba-hamba-Nya.
Jangan pernah khawatir, jangan pernah mengeluh, jangan pernah merasa iri.
Bersabarlah, suatu saat kau akan mencapai masa itu.
Berusaha isi masa-masa sebelum itu untuk memperbaiki diri dan prestasi.
Agar kelak nanti kau tidak merasakan penyesalan.
Semuanya akan indah pada waktunya,
Bunga akan bersemi ataupun gugurpun pada waktunya,
Perjuanganmu juga akan menuai hasilnya
Dan kau akan memetiknya kelak
Selamat menikmati indahnya perjuangan ^_^

Minggu, 14 Februari 2016

Dingin

Bersamaan dingin yang telah dihantarkan oleh rintikan hujan yang turun di sore hari ditambah inilah kota hujan...
Semakin bertambah pula kesunyian dalam keramaian
Hujan tak pernah salah
Hujan diturunkan sebagai rizqi yang begitu indah
Indah setelahnya
Berkumpulah sebagian orang untuk sekedar menghindar dari rintikan hujan yang seperti tajamnya jarum
Berkumpulah sebagian keluarga yang saling bercengkrama
Kicauan burung pun semakin merdu untuk didengarkan
Saat itu pula, kau akan melihat pelangi
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan...

#Selalu ingin sendiri dalam keramaian
#PojokKortimSalman
#MelihatKeramaian

Minggu, 14 Februari 2016

Jumat, 05 Februari 2016

Ajarkan aku arti keikhlasan

Ikhlas, mudah diucapkan tapi begitu sangat sulit untuk dilakukan.
Melakukan perbuatan atau perkataan, masih terdapat rasa untuk dimengerti ataupun untuk diperhatikan.
Rasa itu muncul dengan sendirinya, menyelinap di antara penyakit-penyakit hati..
Karena merasa keadaan yang memaksa atau sudah tidak ada lagi..
Maka terselip kata terpaksa yang seharusnya tak pernah muncul
Atau karena aku tak mau mengganggu mereka
Atau merasa enggan untuk mengerjakannnya
Begitu banyak rasa dan banyak hal yang sengaja untuk dijadikan alasan untuk menyombongkan diri
Menumbuhkan perasaan ujub yang tak terbendungkan
Keji dan hina jiwa ini
Merasa paling benar dan paling baik
Tidak, jiwa ini hanyalah manusia yang penuh dengan kebohongan dan kehinaan
Mereka yang jauh lebih baik dan lebih taat dalam melakukan kebaikan
Lebih pantas untuk mengerjakan yang sepantasnya dilakukan oleh mereka
Bukan aku yang mendapatkannya

Tolong selamatkan jiwa ini dari hinanya kesombongan jiwa
Tolong ajarkan arti dari keikhlasan yang sebenarnya


Minggu, 31 Januari 2016

Hujan

Maghrib menjelang Isya, tiba-tiba hujan telah menemani kesunyianku dalam keramaian.
Menatap dan hanya memperhatikan.
Berfikir dan berceloteh dalam alunan keyboard.
Berfikir betapa rapuh jiwa ini
Betapa kecil dan tak berdaya
Duduk di sudut kursi panjang yang mampu melihat keramaian yang ada
Melihat betapa teduhnya dalam lantunan ayat-ayat yang terus mengalun
Betapa bahagianya dalam asyiknya belajar
Betapa seriusnya anak-anak itu dalam berlajar
Betapa tekunnya teteh itu dalam mengajar
Sungguh, Indah..
Di sudut di mana aku berada...
Aku hanya bisa menonton bersama cahaya layar yang menemani hari-hari...

#Di pojok ini, aku selalu merasa tenang dan nyaman untuk sendiri dalam melihat keramaian yang ada
#PojokSalman
#PojokKortim
#Sendiri

Sabtu, 23 Januari 2016

Titik

Titik.
Sebuah tanda dari sebuah kalimat.
Namun, akan terus ada titik-titik yang akan melengkapi sehingga terbentuklah sebuah cerita.
Jangan pernah berhenti dalam titik yang pertama.
Jangan pernah menganggap titik tersebut adalah sebuah akhir.
Padahal titik tersebut adalah awal dimulai dari sebuah kalimat.
Masih banyak titik-titik yang harus diselesaikan.
Terburu-buru merasa puas terhadap titik tiada gunanya.
Bercermin lah terhadap titik sebelumnya,
Apakah sudah menjadi langkah yang tepat atau hanya sekedar titik yang terlalu sia sia.
Akankah dapat mengambil kesinambungan dari rangkaian huruf yang tersusun sehingga menjadi makna yang tepat dan berguna.
Teruslah menerus menemui titik-titik hingga titik yang terakhir.


#SelaluSuka
#Menyendiri
#DiPojokKortimSalman
#MemandangHijaunyaRumputSalman

Sabtu, 23 Januari 2016

Jumat, 25 September 2015

Sebuah Penyesalan

Baru kusadari, terselip sesuatu di antara tumpukan buku yang berserakan. Terlihat, amplop dengan sampul bunga di luarnya.
Betapa kaget diri ini. Sejak kapan adanya? Siapakah yang meninggalkannya?
Ingin ku membuka, tapi mungkin saja bukan ditujukan kepadaku.
Tak membuka pun, aku semakin penasaran. Lagi pula, ini ada di bukuku.
Perlahan ku mendekat, dan mulai membuka perlahan.
Semakin kaget dibuatnya. Terteralah nama seseorang yang ku kenal selama ini.
Ku baca, kata per kata yang membuatku tertegun dan ingin menangis.
" Maaf kan aku, yang telah berani mengungkapkan perasaan ini padamu. Entah bagaimana hal ini bisa terjadi. Rasa itu, sepertinya datang dengan sendirinya. Aku selalu senang melihat tingkahmu, wajahmu atau apapun yang ada di dirimu.
Semakin lama ku mengenalmu, semakin aku tahu bahwa rasa ini hanya untukmu. Akupun sudah terlalu lama memendam rasa ini padamu. Hingga akupun tak kuat membendung rasa ini dan akhirnya meluap. Maafkan atas kesalahan ini. Tak seharusnya, aku berani melakukan hal seperti ini.
Aku takkan pernah memaksamu untuk menerima. Aku hanya ingin engkau tahu bahwa aku memiliki rasa untukmu yang begitu dalam sejak kali pertama kali kita bertemu.
Biarkan engkau menganggap aku seperti apa. Namun, suatu saat nanti pasti akan tersampaikan maksudku dalam ikatan yang suci.
Maafkan. "
Ya seperti itu lah inti dari surat tersebut. Hingga akupun hanya ingin menangis karena baru mengetahui bahwa ia pernah menulis secarik kertas ini. Kenapa tidak dari sejak dulu kutemukan? Kenapa baru sekarang?
Sesak di dalam dada.
Bagaimana mungkin?
Akupun juga begitu, merasakan rasa itu dari sejak kali kita bertemu.
Tapi....
Apa ini...
Sudah telah menjadi basi.
Dia sudah memiliki seseorang yang akan segera mendampingi hidupnya.
Selama ini, akupun masih berharap kelak akan menjadi pendampingnya dengan tidak mencari lain. Tapi apa daya, sepertinya dia akan jauh lebih bahagia dengan seseorang yang lebih baik dan yang telah terpilih.
Sungguh, hanya sesak yang menyelimuti hati ini.

--Hanya Sebuah Cerita--

Selasa, 29 April 2014

AKULAH YANG PALING TERPINGGIRKAN


Hidupku rasanya sudah tidak berarti lagi. Rasanya aku pengin mati saja. Hidup tak berguna, ketika aku matipun sepertinya tidak akan ada yang peduli. Bagaimana tidak, aku hidup di antara orang tua yang cinta akan pertengkaran, sibuk akan urusan mereka sendiri, pergi sendiri-sendiri apapun kegiatan mereka seakan membuatku sudah terbiasa. Sedangkan aku tak punya kesibukan apapun selain belajar dan bermain. Dan semua itu membuatku jenuh sekali. Sampai pada akhirnya akupun sudah tak ingat lagi masa-masa di mana aku bersama mereka. Hingga akhirnya, ketika kejenuhan itu datang aku selalu melampiaskannya dengan mengambil sebatang rokok dan mengepulkannya ke atas langit. Melukis dengan kepulan asapnya menjadi gambaran kehidupan yang aku alami dan terkadang sering mengumpat akan kekecewaan hidup ini. Itu rasanya cukup menjadi sahabat paling setia ketika dalam kesunyian dan kesendirian. Dan berulang kali aku lakukan hal seperti itu tanpa ada yang mengetahui. Sepertinya aku terbebaskan dari berbagai masalah yang aku hadapi. Aku melakukannya sejak orang tuaku mulai sibuk dengan segala kegiatan mereka. Ya itu aku lakukan ketika berumur 10 tahun yang tadinya hanya coba-coba satu batang dan akhirnya aku mampu menghabiskannya 2 bungkus dalam sehari. Terkadang aku heran juga, kenapa aku bisa melakukannya. Tapi itu tak membuatku merasa kapok untuk mencoba menjamahnya kembali. Uang sudah ada yang menyuplainya,  mau dikemanakan juga tidak ada yang menanyakannya. Ya, aku sudah terlalu nyaman bersamanya.
Suatu ketika, akupun merasa dalam tubuhku mengalami kontraksi yang membuatku menjadi batuk-batuk dan sedikit merasa pusing. Namun, aku masih sangat setia dengannya. Semakin aku mengalami batuk-batuk, akupun selalu menambah porsi dari sebelumnya. Dan sampai saat ini pun masih belum ada orang yang mengetahui bahwa aku adalah pecinta rokok. Hal ini semakin membuatku menangis dan rasanya ingin benar-benar mati. Dalam pikiranku, aku selalu bertanya-tanya kemanakah mereka pergi? Apakah aku sudah tidak punya orang-orang yang menyayangi diriku? Ataukah mereka sudah tidak ada di dunia ini? Apakah aku perlu menyusulnya? Beribu-ribu pertanyaan selalu aku lontarkan dalam keadaanku yang semakin hari semakin sekarat. Makan dan minumpun aku sudah malas, yang mampu untuk menembus sistem pencernaan, pernapasan dan hasratku hanyalah rokok yang selama ini menemaniku. 
Hingga pada akhirnya, aku sudah tidak mampu bertahan menghadapi perlawanan dari serangan dari dalam tubuhku. Akupun memberanikan diri untuk berkonsultasi pada dokter dan dokterpun memvonis mengidap penyakit kanker mulut. Akupun menjadi pasrah dan sudah tidak berdaya lagi. Rasa untuk sembuh sekan benar-benar tidak ada lagi. Akupun seakan sudah siap akan apapun yang terjadi nantinya, tanpa ada satu orangpun yang akan menemani ketika aku sudah tidak ada lagi di dunia. Aku hanya bisa berbaring dalam kamar. Kulitpun menjadi keriput, tubuhku semakin mengurus, yang terlihat hanyalah tulang belulang. Kanker tersebut telah menampakkan dirinya padaku, dia semakin hari mengeluarkan cairan ketika pecah yang menimbulkan bau busuk yang mengundang lalat dan sebangsanya untuk berebut tempat untuk menemani bagian tubuhku ini menjadi tempat bagi mereka.
Malaikatpun sepertinya sudah muak melihatku berada lama-lama di dunia. Diapun memaksaku untuk ikut bersama dengan dirinya. Namun, dia sengaja menyisakan rasa laparku tertinggal di dunia. Sehingga, aku terlihat seperti masih seperti manusia. Padahal aku bukan manusia lagi, lebih tepatnya seperti hewan yang hanya mempunyai rasa lapar tanpa adanya akal. Akupun hanya bisa makan daging termasuk lalat yang ada di sekitar mulutku yang aku jilati, tikus, serangga bahkan manusia. Ketika memakan manusia, itu sepertinya rasa gairah memakanku meningkat. Akupun semakin menjadi, yang membuatku berani untk berkeliaran untuk mencari mangsa. Hingga suatu ketika, aku menemukan anak kecil yang sangat menggugah seleraku. Aku mendekatinya dan langsung memakannya. Pada saat itupun, terdapat polisi yang siap untuk menembak. Namun, aku mencium bau segar dan aku langsung mengarah ke polisi. Hingga pelurupun menembus kepalaku yang pada akhirnya membuatku sudah tidak ada didunia ini